Sinkronisasi Kurikulum Dalam Pengembangan Kurikulum SMK

Oleh: Maman Suratman, SPd, MT

Pengawas SMK Dinas Pendidikan Kabupaten Sukabumi

 A.   Latar belakang

Kebijakan otonomi daerah telah membawa dampak terhadap kebijakan otonomi di bidang pendidikan. Salah satu wujudnya adalah pada kebijakan pengembangan kurikulum, yang semula bersifat sentralistik (kurikulum dikembangkan oleh pemerintah pusat)  menjadi bersifat desentralistik (kurikulum dikembangkan oleh satuan pendidikan). Dengan demikian penyusunan dan pengembangan kurikulum harus dilaksanakan oleh setiap satuan pendidikan (sekolah). Produk kurikulum yang dibuat dan dikembangkan oleh satuan pendidikan  itu kemudian diberi nama ”Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan” (KTSP).

 Di satu sisi, perubahan paradigma yang semula hanya sebagai “pengguna” menjadi “pembuat”  sekaligus “pengguna” kurikulum, telah memberikan kesibukan dan beban kerja tersendiri bagi sekolah. Penyusunan dan pengembangan kurikulum sekarang harus menjadi agenda pokok dalam program tahunan sekolah dan tentunya akan membutuhkan anggaran tersendiri untuk itu. Di sisi lain,  dengan diberinya kesempatan sekolah untuk menggodok kurikulumnya sendiri dapat mendorong terwujudnya otonomi sekolah dalam penyelenggaraan pendidikan. Para guru, kepala sekolah, dan pihak manajemen sekolah dapat lebih  meningkatkan kreativitasnya dalam perencanaan dan penyelenggaraan program-program pendidikan. Sangat memungkinkan juga bagi setiap sekolah, khususnya SMK,  untuk melakukan sinkronisasi kurikulum di tingkat sekolah dengan bantuan pihak dunia usaha/dunia industri/dunia kerja (du/di/dk), sehingga kurikulum yang dihasilkan akan memiliki muatan (isi) yang lebih relevan dengan kompetensi-kompetensi yang dibutuhkan du/di/dk.  

Pertanyaannya sekarang, bagaimana format  kegiatan singkronisasi kurikulum di tingkat satuan pendidikan ini, sejauh mana keterlibatan pihak du/di/dk, apa saja yang dilakukan oleh sekolah dan du/di/dk dalam menyinkronkan materi kurikum sekolah dengan kompetensi-kompetensi  yang dibutuhkan du/di/dk? Tulisan singkat ini akan mencoba memaparkan beberapa saran langkah-langkah teknis dan batasan ruang lingkup kegiatan singkronisasi kurikulum di tingkat sekolah. Hal ini penting dibahas dan didiskusikan agar diperoleh format kegiatan yang bisa diajikan acuan untuk kegiatan sinkronisasi kurikulum di tingkat sekolah. Kita belum punya format baku, karena selama ini kegiatan sinkronisasi kurikulum lebih banyak dilakukan di tingkat pusat.

  1. B.   Pengertian dan Prinsip Pengembangan KTSP SMK

Karena sinkronisasi kurikulum yang akan dibahas di sini berada dalam ruang lingkup pengembangan KTSP SMK, maka sebelum kita membahas dan mempraktikan lebih jauh  sinkronisasi kurikulum, kita perlu memahami lebih dahulu pengertian dan beberapa prinsip  yang berkaitan dengan pengembangan KTSP SMK,  yaitu sebagai berikut:

  1. 1.    Pengertian Kurikulum dan silabus  
  • Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. (UUSPN No. 20 Bab 1 Ps 1 butir 19).
  • Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) adalah kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan (PP 19/2005 BAB I Pasal 1 butir 15).
  • Isi KTSP terdiri atas tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan, struktur dan muatan kurikulum tingkat satuan pendidikan, kalender pendidikan, dan silabus)1.
  • Silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu dan/atau kelompok mata pelajaran/tema tertentu yang mencakup standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator, materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran,  penilaian, alokasi waktu, dan sumber/bahan/alat belajar. Silabus merupakan penjabaran standar kompetensi dan kompetensi dasar ke dalam materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian)1.

 

  1. 2.    Prinsip-Prinsip Pengembangan KTSP SMK

Dalam panduan penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan SMK dijelaskan bahwa KTSP SMK dikembangkan berdasarkan prinsip-prinsip berikut:

  • Berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik dan tuntutan lingkungannya. Peserta didik memiliki posisi sentral, berarti segala kegiatan pembelajaran berpusat pada peserta didik.

 

  • Beragam dan terpadu.  Artinya memperhatikan keragaman karakteristik peserta didik, kondisi daerah, jenjang dan jenis pendidikan, serta menghargai dan tidak diskriminatif terhadap perbedaan agama, suku, budaya, adat istiadat, status sosial ekonomi, dan jender.
  • Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. Isi kurikulum harus memberikan kegiatan pembelajaran peserta didik untuk mengikuti dan memanfaatkan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni.
  • Relevan dengan kebutuhan kehidupan. Pengembangan kurikulum dilakukan dengan melibatkan pemangku kepentingan (stakeholders) untuk menjamin relevansi pendidikan dengan kebutuhan kehidupan, termasuk di dalamnya kehidupan kemasyarakatan, dunia usaha/industri dan dunia kerja.
  • Menyeluruh dan berkesinambungan. Substansi kurikulum mencakup keseluruhan dimensi kompetensi, bidang kajian keilmuan dan mata pelajaran yang direncanakan dan disajikan secara berkesinambungan antarsemua jenjang pendidikan.
  • Belajar sepanjang hayat. Kurikulum diarahkan kepada proses pengembangan, pembudayaan, dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat. Kurikulum mencerminkan keterkaitan antara unsur-unsur pendidikan formal, nonformal, dan informal dengan memperhatikan kondisi dan tuntutan lingkungan yang selalu berkembang serta arah pengembangan manusia seutuhnya.
  • Seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah. Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan kepentingan nasional dan kepentingan daerah untuk membangun kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

 

C. Pendekatan dalam Penyusunan KTSP SMK

Pendekatan yang digunakan dalam merancang Kurikulum SMK Edisi 2006 masih sangat relevan untuk digunakan dalam penyusunan KTSP SMK. Namun sangat disayangkan pendekatan ini tidak terbahas di dalam buku panduan penyusunan KTSP, padahal penting untuk dihayati dan disikapi oleh pengembang kurikulum di sekolah.  Beberapa pendekatan itu adalah sebagai berikut )2

1.  Pendekatan Akademik

Kaidah-kaidah akademik yang harus diikuti dalam penyususnan kurikulum antara lain adalah sebagai berikut  :

a.  Kurikulum harus berisi rancangan pendidikan dan pelatihan yang menyentuh dan terpadu.

b.  Kurikulum harus mengandung komponen tujuan, isi atau materi dan evaluasi yang dirancang menjadi satu kesatuan yang utuh.

  1. Kurikulum secara jelas menunjukkan tujuan langsung (tersurat) dan tujuan tidak langsung (tersirat).

 

2.  Pendekatan Kecakapan Hidup (life skills)

Isu yang mengemukakan dewasa ini yakni adanya kesenjangan antara sekolah dengan kehidupan nyata di masyarakat. Apa yang dipelajari di sekolah, merupakan hal lain yang terjadi di masyarakat, sehingga disinyalir sekolah semakin menjauhkan peserta didik dengan dunia nyatanya di mana ia hidup dan bermasyarakat. Oleh karena itu, agar peserta didik dapat mengenal dengan baik dunianya dan dapat hidup wajar di masyarakat, perlu dibekali kecakapan hidup (life skills).

Kecakapan hidup meliputi: (a) kecakapan personal (personal skills) (b) kecakapan sosial (social skills), (c) kecakapan akademik (academic skills), dan (d) kecakapan vokasional ( vocational skills).

Program kecakapan hidup di SMK merupakan kelanjutan dari program kecakapan hidup yang dilaksanakan di Sekolah Menengah Pertama (SMP). SMK harus menyusun rencana pelaksanaan program kecakapan hidup (noninstruksional) yang terintegrasi pada topik pemelajaran instruksional dan atau pada kegiatan ekstrakurikuler.

3.  Pendekatan kurikulum berbasis kompetensi (competency–based curriculum)

Kompetensi (competency) mengandung makna kemampuan seseorang yang diisyaratkan untuk menyelesaikan pekerjaan tertentu pada dunia kerja dan ada pengakuan resmi atas kemampuan tersebut. Dalam lingkup pendidikan menengah kejuruan, pengertian kurikulum berbasisi kompetensi dapat di uraikan sebagai berikut  : 

a.  Kurikulum berbasis kompetensi diartikan sebagai rancangan pendidikan dan pelatihan yang dikembangkan berdasarkan standar  kompetensi yang berlaku di tempat kerja.

b.  Substansi kompetensi memuat pernyataan pengetahuan (knowledge), keterampilan (skill) dan sikap (attitude).

c.  Isi atau materi kurikulum yang dirancang dengan pendekatan berbasis kompetensi diorganisasi dengan sistem modular (satuan utuh), ditata secara sekuensial dan sistemik.

d.  Ada koreksi langsung antara penjenjangan jabatan pekerjaan di dunia kerja dengan pentahapan pencapaian kompetensi di SMK.

  1. 4.    Pendekatan kurikulum berbasisi Luas dan mendasar (broad–based curriculum)

Kurikulum berbasis luas dan mendasar adalah rancangan pendidikan yang memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk memahami dan menguasai konsep, prinsip dan keilmuan yang melandasi suatu bidang keahlian. Dengan demikian peserta didik tidak hanya memahami dan menguasai “apa” (know what) dan “bagaimana” (know how) suatu pekerjaan dilakukan, tetapi harus sampai kepada pemahaman dan penguasaan tentang “mengapa” (know why) dilakukan.

Oleh karena itu, pengembangan kurikulum tidak hanya diarahkan agar peserta didik dapat beradaptasi dan mengalihkan/transfer kompetensi, pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan lain yang dimiliki ke dalam situasi dan kondisi yang berbeda.

5.  Pendekatan kurikulum berbasis produksi (production based curriculum)

Kegiatan pendidikan dan pelatihan yang menyatu pada proses produksi atau menggunakan proses produksi sebagai media pembelajaran. Pendekatan ini dilakukan dengan tujuan terutama untuk memperkenalkan peserta didik dengan iklim kerja yang nyata. Pelaksanaan pembelajaran bisa dilakukan dengan cara antara lain sebagai berikut:

  • Di dunia industri, peserta didik mendapat pelatihan dan pengalaman nyata melalui keterlibatan langsung dalam proses produksi sebagai media pendidikan.
  • Di sekolah, peserta didik dilibatkan dalam proses produksi diunit produksi sekolah.

Di sekolah, peserta didik berpraktik diruang praktikum yang menerapkan mekanisme produksi, sehingga tercipta suasana kerja seperti di industri. Pelatihan harus menghasilkan produksi yang memenuhi standar industri dan layak jual.

 

D.  Mekanisme Penyusunan KTSP SMK )1

1.  Tim penyusun

Tim penyusun kurikulum tingkat satuan pendidikan SMK terdiri atas:

a.  Kepala sekolah sebagai ketua merangkap anggota;

b.   Guru;

c.   Konselor;

d.  Komite sekolah (sebagai wadah keterlibatan pihak du/di, asosiasi, dunia kerja, dan anggota institusi pasangan lainnya);

e.  Nara sumber.

  1. Dinas Pendidikan bertindak sebagai koordinator dan supervisor.

Guru, konselor, komite sekolah (khususnya DU/DI, Asosiasi, Dunia Kerja, dan anggota Institusi Pasangan lainnya) dan nara sumber bertindak sebagai anggota tim penyusun KTSP.

  1. 2.    Kegiatan

Penyusunan kurikulum tingkat satuan pendidikan merupakan bagian dari kegiatan perencanaan sekolah. Kegiatan ini dapat berbentuk rapat kerja dan/atau lokakarya sekolah dan/atau kelompok sekolah yang diselenggarakan dalam jangka waktu tertentu sebelum tahun pembelajaran baru.

Alur kegiatan penyusunan KTSP SMK digambarkan sebagai berikut.

SWOT Analisis

ANALISIS KONTEKS

Visi, Misi dan Tujuan

Identifikasi Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan

PENYUSUNAN KTSP

Review dan Validasi KTSP (3)

Penyiapan dan Penyusunan Draf KTSP (2)

Pembentukan Tim Penyusun

(1)

Finalisasi   (5)

Revisi (4)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kegiatan analisis konteks mencakup:

  •  Analisis potensi serta kekuatan dan kelemahan yang ada di sekolah, meliputi: peserta didik, pendidik, tenaga kependidikan, sarana prasarana, biaya, serta kompetensi  keahlian yang ada di sekolah.
  •  Analisis peluang dan tantangan yang ada di masyarakat dan lingkungan sekitar, antara lain: komite sekolah, dewan pendidikan, dinas pendidikan, asosiasi profesi, dunia usaha/industri, dunia kerja, sumber daya alam dan sosial budaya.
  •  Mengidentifikasi standar isi dan standar kompetensi lulusan sebagai acuan dan panduan penyusunan kurikulum tingkat satuan pendidikan.

 

Dalam gambar alur di atas ditunjukkan bahwa inti kegiatan penyusunan KTSP adalah:

  1. Penyiapan dan penyusunan draf;
  2. Review, validasi dan revisi;
  3. Finalisasi.

Langkah yang lebih rinci dari masing-masing kegiatan dapat diatur dan diselenggarakan oleh tim penyusun.

  1. 3.    Pemberlakuan

Dokumen KTSP SMK dinyatakan berlaku oleh kepala sekolah setelah mendapat pertimbangan dari komite sekolah dan diketahui oleh Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten dan Kepala Dinas Pendidikan Provinsi.

  1. E.    Sinkronisasi Kurikulum dalam Pengembangan Kurikulum SMK

1.  Pengertian

“Sinkronisasi”  berasal dari kata “sinkron”, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia )3 diartikan sebagai  “serentak”, terjadi atau berlaku pada waktu yang sama.  Sinkronisasi berarti perihal menyinkronkan, penyerentakan, dalam melaksanakan tugasnya masing-masing. Dijelaskan lebih operasional dalam Synchronized methods )4  bahwa sinkronisasi adalah proses (kegiatan) pengaturan jalannya beberapa proses pada saat yang bersamaan.

Dari pengertian sinkronisasi di atas dapat dirumuskan pengertian sinkronisasi dalam konteks pengembangan kurikulum, bahwa “sinkronisasi kurikulum”  berarti kegiatan pengaturan jalannya proses pembelajaran di sekolah dan proses kerja di institusi pasangan/pengguna lululusan yang dikondisikan secara bersamaan. Jalannya proses pembelajaran di SMK yang diatur dalam kurikulum harus secara serentak mengikuti jalannya proses kerja di institusi pasangan/pengguna lululusan. Sinkronisasi kurikulum akan berjalan dengan baik apabila dilakukan secara terencana, terprogram, dan berkesinambungan.

Dalam konteks pengembangan kurikulum SMK, sinkronisasi kurikulum SMK merupakan suatu kegiatan bersama antara penyusun/pengembang  kurikulum dengan dunia usaha / dunia industry / dunia kerja (du/di/dk) sebagai pengguna lululusan atau institusi pasangan. Dalam hal ini yang berlaku sebagai penyusun/pengembang kurikulum adalah sekolah atau kelompok sekolah dengan kompetensi keahlian yang sama. Sedangkan pihak pengguna lulusan/institusi pasangan atau du/di/dk bertindak sebagai pengkaji tingkat relevansi ruang lingkup kompetensi yang dirumuskan oleh sekolah/kelompok sekolah dengan ruang lingkup kompetensi yang dibutuhkan oleh pihak  du/di atau dunia kerja. Dari hasil kegiatan sinkronisasi kurikulum ini diharapkan memperoleh hasil kurikulum yang memilki relevansi tinggi dengan kompetensi-kompetensi yang dibutuhkan oleh pengguna lululusan atau institusi pasangan.

  1. 2.    Tujuan

Tujuan utama sinkronisasi kurikulum SMK adalah meningkatkan relevansi pencapaian kompetensi-kompetensi oleh siswa di sekolah dengan kompetensi-kompetensi yang diperlukan di institusi pasangan atau pengguna lulusan.

Dengan melakukan sinkronisasi kurikulum secara terencana, terprogram, dan berkelanjutan, SMK akan selalu menghasilkan lulusan yang link and match (memilki keterkaitan dan kesepadanan) dengan perkembangan-perkembangan yang terjadi di lingkungan kerja.

  1. 3.    Format kegiatan sinkronisasi kurikulum SMK

Mekanisme penyusunan kurikulum SMK memberikan ruang kepada pengembang kurikulum sekolah untuk melakukan sinkronisasi kurikulum. Ruang itu justeru berada pada inti kegiatan penyusunan kurikulum, yaitu bersamaan dengan kegiatan review, validasi, dan revisi (lihat gambar alur kegitan penyusunan KTSP di atas). Kurikulum yang sudah dirancang terlebih dahulu oleh sekolah ditinjau ulang (review), dikaji relevansinya (validasi), dan diperbaiki hal-hal yang belum sinkron (revisi) oleh kedua belah pihak (sekolah dan du/di/dk).

Agar kegiatan siskronisasi kurikulum dapat berjalan efektif dan efisien maka ruang lingkup kegiatannya haruslah diberi batasan. Sebab disadari, bahwa baik pihak du/di/dk maupun pihak sekolah, tidak bisa terlalu berlama-lama duduk besama dalam pengkajian bahan kurikulum ini, sehubungan kedua belah pihak masing-masing punya keterbatasan waktu. Oleh karena itu dapat disarankan di sini bahwa ruang lingkup kegiatan sinkronisasi kurikulum dibatasi hanya pada kegiatan pengkajian silabus. 

Silabus merupakan intinya kurikulum, di dalamnya sudah terkandung standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator, materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran,  penilaian, alokasi waktu, dan sumber/bahan/alat. Jadi mengkaji silabus dapat dianggap mengkaji substansi kompetensi-kompetensi yang terdapat dalam kurikulum rancangan sekolah. Hasil pengkajian silabus ini diharapkan dapat melahirkan rekomendasi dari pihak du/di/dk kepada pihak sekolah tentang apa-apa yang harus ditambah, dikurang, atau dipertahankan dari materi silabus yang telah sibuat. Rekomendasi ini kemudian digunakan oleh pihak sekolah untuk menyempurnakan silabus.

  1. 4.    Langkah-langkah kegiatan

Kegiatan sinkronisasi kurikulum, merupakan bagian dari kegiatan pengembangan kurikulum SMK. Oleh karena itu langkah-langkah kegiatannya pun harus merupakan satu alur dengan kegiatan pengembangan kurikulum SMK. Di bawah ini akan diuraikan saran langkah-langkah kegiatan sinkronisasi kurikulum untuk lebih disempurnakan dan disesuaikan dengan situasi dan kondisi di sekolah. Garis besar langkah-langkah kegiatan sinkronisasi kurikulum yang dimaksud adalah sebagai berikut (lihat gambar):

1.  Sekolah menyiapkan draf kurikulum terutama Dokumen II (silabus). Dokumen II ini sudah merupakan hasil review dalam kegiatan pengembangan kurikulum di sekolah yang biasa dilakukan sebelum awal tahun pelajaran.

2.  Institusi pasangan/pengguna lulusan menyiapkan dokumen Standard Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) dan/atau standard kompetensi kerja yang berlaku di institusi itu.

3.  Dalam suatu kegiatan rapat kerja atau workshop atau loka karya, pihak sekolah  bertemu dengan pihak pengguna lulusan untuk mengkaji bersama dokumen II yang telah dirancang sekolah dan dokumen standard kompetensi kerja. Pengkajian dilakukan secara komprehensif pada seluruh item yang ada pada silabus, dari mulai  standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator, materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, penilaian, alokasi waktu, dan sumber/bahan/alat pembelajaran.

4.  Hasil pengkajian bersama terhadap dokumen silabus dan dokumen standar kompetensi kerja, harus melahirkan rekomendasi untuk revisi silabus.

5.  Revisi silabus cukup dilakukan oleh pihak sekolah berdasarkan rekomendasi-rekomendasi yang diberikan oleh institusi pasangan.

Langkah-langkah teknis yang lebih rinci tentu tidak dapat dibahas dalam tulisan singkat ini, dan ini hanya sebagai saran saja. Oleh karena itu sangat diperlukan inisiatif dan kreativitas dari pihak sekolah dan pihak institusi pasangan dalam menentukan langkah-langkah yang dipandang lebih efektif.

  1. F.    Kesimpulan

Dalam era otonomi pendidikan sekarang ini,  sekolah diberi kewenangan untuk menyusun dan mengembangkan sendiri kurikulumnya. Dengan demikian para guru, kepala sekolah, dan pihak manajemen sekolah dapat lebih  meningkatkan kreativitasnya dalam perencanaan dan penyelenggaraan program-program pendidikan.  Sangat memungkinkan juga bagi setiap sekolah, khususnya SMK,  untuk melakukan sinkronisasi kurikulum, karena mekanisme penyusunan kurikulum yang diatur dalam panduan penyusunan KTSP SMK memberikan ruang kepada pengembang kurikulum sekolah untuk melakukan hal itu.

Sinkronisasi kurikulum SMK merupakan suatu kegiatan bersama antara penyusun/pengembang  kurikulum dengan pengguna lululusan/institusi pasangan. Pihak sekolah berlaku sebagai penyusun/pengembang kurikulum, sedangkan pihak pengguna lulusan/institusi pasangan bertindak sebagai pengkaji tingkat relevansi kurikulum yang dirumuskan oleh sekolah dengan ruang lingkup kompetensi yang dibutuhkan oleh pihak  du/di/dk.

Agar kegiatan siskronisasi kurikulum dapat berjalan efektif dan efisien maka ruang lingkup kegiatannya dibatasi hanya pada kegiatan pengkajian silabus, karena di dalam silabus sudah terkandung gambaran ruang lingkup kompetensi yang dirancang sekolah. Hasil pengkajian silabus ini diharapkan dapat melahirkan rekomendasi dari pihak pengguna lulusan/institusi pasangan untuk penyempurnaan kurikulum SMK. Dari kegiatan sinkronisasi kurikulum ini diharapkan memperoleh hasil kurikulum yang memilki relevansi tinggi dengan kompetensi-kompetensi yang dibutuhkan oleh pengguna lulusan/institusi pasangan. (Sukabumi, 08/07/ 2010)

Bahan bacaan:

  1. ——–. 2008. Panduan Penyusunan KTSP SMK, Jakarta: Direktorat PSMK Depdiknas
  2. ——–. 2006. Dokumen Kurikulum SMK Edisi tahun 2006. Jakarta: Depdiknas.
  3. http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/.
  4. http://java.sun.com. Synchronized methods (The Java TM; Tutorials > Essential Classes > Concurrency). Diakses 8 Maret 2007
  5. Tini Sugiarti. SMK sebagai Pilihan Utama, opini. Bandung: Pikiran Rakyat, Jumat,06 April 2007
  6. Imam Hanafie 2007. Plus Minus Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Homepage Pendidikan Network. 
  7. http://www.ditpsmk.net/
  8. http://www.puskur.net
About these ads

5 responses to “Sinkronisasi Kurikulum Dalam Pengembangan Kurikulum SMK

  1. terimakasih bung atas informasinya yang banyak padat dan berisi. sungguh merupakan anugrah karena materinya runtut walau dasar literatur bukunya masih kurang, tapi saya salut alur berpikirnya sangat hebring. sumuhun…

  2. xczxvxzvsdzv svzvzv
    bvngcbg

  3. Ping-balik: PELATIHAN PEMBUATAN BLOG | bkksmk1pwt

  4. Ping-balik: PELATIHAN PEMBUATAN BLOG | bkksmk1pwt

  5. KALAU BISA SINKRONISASI DENGAN DU/DI

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s